Fakta dan mitos tentang memancing yang harus diketahui oleh pemancing pemula

 


Apakah kamu seorang yang menggemari aktivitas memancing? Atau hanya pemancing biasa yang pergi memancing untuk membuang kebosanan saja?

Pernahkan kamu mendengar pendapat jika joran atau pancingan tidak boleh dilangkahi agar tidak berujung boncos saat memancing?

Pernahkah kamu meludahi umpan saat memancing, entah karena ikut-ikutan atau spontanisme?

Berikut adalah beberapa fakta dan mitos tentang memancing yang harus kamu ketahui untuk memperbarui pengalaman memancingmu.

 

1. Bulan purnama pertanda ikan tidak mau makan


Kondisi alam seringkali dikaitkan dengan mood ikan dalam mencari makan. Banyak yang percaya jika memancing saat bulan purnama atau bulan penuh maka ikan tidak mau makan. Keyakinan ini sebenarnya dimulai dari pengalaman nelayan yang sering mendapat sedikit ikan saat melaut pada malam bulan purnama dibanding malam-malam biasanya. Percaya atau tidak, ini memang benar terjadi.

Belum diketahui pasti penyebab ikan-ikan, khususnya di laut, lebih sulit ditangkap saat malam bulan purnama. Ada yang beranggapan bahwa cahaya bulan purnama mengalahkan cahaya lampu milik nelayan di tengah laut. Akibatnya, ikan-ikan yang harusnya datang mendekati kapal / perahu saat disinari lampu malah tidak berefek sama sekali.

Ada pula yang percaya jika ikan sulit didapat saat bulan purnama karena ada kaitannya dengan gravitasi. Dalam mata pelajaran IPA sekolah menengah atas, diajarkan bahwa revolusi bulan terhadap bumi mengakibatkan posisi pasang-surut air laut yang menjadikan bumi berbentuk elips. Hal ini mengakibatkan arus bawah laut kencang sekali saat bulan purnama terjadi. Karenanya ikan-ikan memilih untuk bersembunyi dibalik karang.

Sementara, pendapat yang lebih mudah dipahami adalah karena cahaya purnama menerangi perairan. Perairan yang terang membuat ikan-ikan predator lebih mudah melihat mangsanya, ikan-ikan yang lebih kecil.

Dari beberapa pendapat di atas, maka kesimpulan untuk pernyataan ‘Bulan purnama pertanda ikan tidak mau makan’ adalah benar dan SALAH!

Benar, karena pengalaman ini terbukti dirasakan oleh para nelayan. Sedangkan salah karena kalaupun semua pendapat diatas itu benar, maka pernyataan tersebut tidak berlaku untuk ikan-ikan di perairan air tawar. Kalaupun ada 1 pendapat yang paling memungkinkan, yaitu adanya predator saat terang bulan, maka perairan air tawar tidak terdapat banyak predator untuk ikan jenis mujair, tombro / mas, gurami, dan sebagainya.

 

2. Berjalan melewati joran membuat pemancing boncos

Tidak sedikit pemancing akan marah jika seseorang berjalan diatas jorannya atau melewatinya. Bukannya berjalan di sisi samping joran, tapi melompati pancingan. Beberapa pemancing mungkin merasa tidak dihargai kegemarannya dan sebagian lagi khawatir akan bernasib sial setelah itu.

Melompati pancing dipercaya mengakibatkan pemancing tidak mendapat ikan saat menggunakannya. Terdengar aneh memang.

Berbeda dengan pemancing, joran adalah benda mati yang tidak memiliki perasaan. Ia tidak akan merasa sakit hati karena merasa tidak dihargai kemudian enggan menarik ikan. Tidak ada kelebihan yang berkurang atau bertambah setelah joran dilompati atau bahkan tercebur got sekalipun. Kelebihan dan kekurangan joran atau pancingan terletak pada spesifikasinya saat membeli, dan itupun tidak berpengaruh pada peluang pemancing mendapatkan ikan.

 

3. Ikan pelaris lepas mengakibatkan boncos seharian

Mendapatkan ikan pelaris atau ‘ikan pertama yang ditangkap’ adalah euforia tersendiri bagi pemancing. Tapi bagaimana jadinya jika ikan pertama yang ditangkap malah lepas saat tengah menggulung reel dan ikan belum sempat terangkat ke daratan?

Banyak pemancing percaya jika ikan pelaris yang terlepas adalah pertanda sial. Ikan tidak akan mau memakan umpan dari pancing yang sama setelah itu. Akhirnya, “Boncos” atau tidak dapat ikan jadi ‘status’ yang didapat lebih dulu.


Apakah benar jika ikan pertama lepas maka selanjutnya ikan benar-benar tidak akan mau makan lagi, bahkan ikan yang berbeda pula?

Penjelasannya adalah ketika pemancing melemparkan umpannya ke tengah-tengah gerombolan ikan kemudian banyak ikan berebut, sampai akhirnya ada satu ikan benar-benar menelan umpan. Ketika ikan tersangkut ke mata kail kemudian terlepas, maka ikan akan lari kembali menuju rombongannya sebelum ia lari bersembunyi untuk menyembuhkan diri. Saat ia kembali menuju gerombolannya inilah ikan yang lain akan segera mengetahui bahwa ‘ada yang tidak beres’. Segera setelah itu, ikan-ikan akan bergerak menuju tempat lain, atau berhenti makan.

Tips untuk mengatasi kondisi ini adalah diantaranya dengan berpindah spot atau mengganti jenis umpan yang dipakai dengan umpan yang berbeda dari sebelumnya.

 

4. Meludahi umpan mempercepat dapat ikan

Bukan hal baru jika memancing juga dilakukan dengan menggunakan aroma tampahan seperti essence untuk mendatangkan ikan. Ludah memiliki bau amis yang bisa jadi disukai ikan. Sebagai contoh, saat meludah ke kolam ikan kadangkala ikan akan menghampirinya sebelum ikan menyambar dengan perlahan.

Meludahi umpan agar ikan cepat memakan umpan bukanlah kebohongan. Cara ini bisa diterapkan saat memancing menggunakan umpan cacing.

 

5. Stopper warna cerah membuat ikan takut memakan umpan

Ikan memang makhluk hidup yang tidak berakal, tapi ikan juga setidaknya memiliki kecerdasan, atau kita sebut saja ikan memiliki insting terhadap sesuatu.

Stopper adalah aksesoris yang digunakan untuk menyumbat lubang cincin aksesoris pancing lainnya, agar ia tidak bebas bergerak mengikuti alur benang. Contohnya stopper pelampung, berguna untuk menahan pelampung agar saat melempar pancingan, pelampung akan bergerak dari posisi bawah ke atas – kemudian tersangkut pada stopper yang menunjukkan kedalaman tertentu.

Posisi stopper yang berdekatan dengan mata kail, akibatnya saat ikan memakan umpan, stopper ikut bergerak sehingga ikan dengan reflek pergi menghindar. Namun kondisi ini tidak berlaku jika memancing di perairan yang keruh atau memancing ikan nocturnal ataupun jenis ikan yang bergerombol.

 

6. Melepas ikan kecil yang didapat agar ikan besar mau makan


Tindakan ini sebenarnya adalah candaan pemancing untuk menghibur diri. Sambil melepaskan ikan, biasanya pemancing juga mengatakan “Panggil mamamu!”. Haha… Gak lucu!

Nyatanya, melepas ikan kecil dengan tujuan mendapat ikan yang lebih besar tidaklah benar. Malah, ini bisa memicu pemancing kehilangan peluang mendapat ikan tangkapan lainnya. Alasanya, karena ikan yang dilepas akan berubah (umumnya warnanya) menjadi stess. Saat kembali ke tempatnya semula, ikan lain akan segera menyadari hal itu dan memutuskan berhenti makan untuk sementara waktu.

Walau begitu, melepas ikan kecil adalah tindakan yang baik untuk kelestarian ikan, agar ikan tidak cepat habis karena penangkapan yang berlebihan. Dengan begitu, akan ada kesempatan mendapatkan ikan besar lainnya di kesempatan memancing berikutnya.

 

7. Dilarang berisik atau banyak bergerak saat memancing agar ikan tidak lari

Ada beberapa jenis ikan yang memang sangat sensitif terhadap getaran yang ditimbulkan dari daratan (Pemancing). Ikan jenis ini biasanya merupakan ikan yang teritorial atau memiliki kekuasaan wilayah sendiri dan suka ketenangan, seperti : Ikan Gabus.

Meski begitu, sebenarnya pernyataan bahwa memancing tidak boleh berisik atau banyak bergerak adalah salah. Sebab ada lebih banyak jenis ikan yang cenderung mengabaikan aktivitas pemancing selagi ia (Ikan) mencari makan di dalam air.

Bahkan, ada beberapa jenis ikan yang malah tertarik dengan gangguan seperti percikan air, arus, atau bahkan jika air tersebut dibuat keruh. Ikan Lele contohnya, saat berada di air yang lebih jernih, ikan ini menyukai kondisi air yang keruh sebab air yang keruh menunjukkan tanah yang terurai dari dasar perairan sehingga lebih mudah mencari makan.

Maka kesimpulan dari pernyataan diatas adalah “Bisa jadi”, tergantung ikan yang menjadi target tangkapan.

 

8. Menyiramkan air di permukaan air agar ikan datang

Menyiram air ke permukaan air tempat melempar umpan biasa dipraktikkan saat memancing ikan di kolam pancing, khususnya kolam pancing lomba atau turnamen. Caddy akan menyiram permukaan air menggunakan ember kecil atau sedang saat cuaca panas. Tujuannya agar wilayah yang disiram tersebut temperatur airnya menjadi lebih dingin sehingga ikan akan bergerak bebas di bawah air.

Menyiramkan air juga kadang bertujuan untuk mengundang ikan datang dengan cara menambahkan beberapa umpan atau aroma umpan ke air yang akan disiramkan.

Pertanyaannya, apakah cara ini efektif untuk mendatangkan ikan atau membuat ikan mau memakan umpan?

Jawabannya, Iya!

Namun, cara ini berlaku kebanyakan hanya pada ikan peliharaan yang diperuntukkan lomba memancing, yang mana ikan yang didapat kemudian dilepaskan kembali atau ikan hanya dipindahkan ke kolam berbeda setelah terpancing. Tentu saja saat lomba selesai digelar, ikan tadi akan dikembalikan ke kolam utama.

Pada kasus memancing di laut, nelayan juga menyiramkan air ke permukaan air laut. Tindakan ini juga diikuti dengan melepaskan atau melemparkan ikan kecil untuk makanan ikan. Ikan kecil ini berperan sebagai ‘pemancing’ agar ikan besar mau datang dan berburu ikan-ikan kecil tersebut. Sedangkan fungsi air ini bertujuan untuk mengelabuhi ikan, seolah ikan kecil yang bergerak di permukaan air ada banyak.

 

9. Menggetarkan joran agar ikan cepat makan


Menggetarkan joran atau membuat ‘contact’ pada pancing umum dilakukan saat memancing menggunakan umpan hidup alami. Cara ini juga dilakukan saat memakai umpai pelet.

Saat menggunakan umpan hidup, menggerakkan joran bertujuan agar umpan terlihat hidup se-alami mungkin.

Hal ini mirip hubungannya dengan ketika pemancing mujair menyeret umpannya atau menggulung senarnya perlahan agar ikan mau memakan umpan. Gerakan ini membuat umpan di dasar air terlihat seperti benar-benar hidup. Ikan sejenis mujai akan bereaksi dengan mengejar, kemudian karena penasaran ia akan menggigit umpan meski tidak bermaksud memakannya.

Saat memancing memakai umpan pelet, pemancing menggerakkan atau menggetarkan joran untuk membuat pelet cepat rontok atau menyebar. Cara ini efektif mendatangkan ikan sebab sebaran pelet yang lebih luas membuat ikan lebih mudah mendeteksi keberadaan umpan.

 

Itulah beberapa fakta dan mitos tentang memancing yang paling umum dipercaya di Indonesia. Beberapa mitos atau ketidak-benaran yang disebut diatas hingga kini masih dipercaya. Entah karena kebetulan atau memang karena efek sugesti, kepercayaan tersebut secara tidak sengaja jadi terus tersampaikan ke generasi berikutnya.

Pemancing akan lebih nyaman jika menghindari hal-hal yang menurutnya tidak menguntungkan. Apapun itu yang membuat kamu merasa nyaman, selagi memancing masih dirasa menyenangkan, lakukan saja! 🙂



0 Response to "Fakta dan mitos tentang memancing yang harus diketahui oleh pemancing pemula"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan baik dan sopan, link spam akan langsung dihapus

Iklan

Iklan

Iklan

Iklan